Hujatan terus dilontarkan terhadap makna kejawen dalam kehidupan kita. Kejawen dianggap ilmu kejiwaan yang musyrik karena menyembah benda gaib beserta mahkluknya. Kesalahan tafsir sering digunakan untuk menghilangkan jati diri dan memasukan doktrin baru yang justru berdampak negativ.

Apa kejawen itu?
Kejawen adalah kata bentukan yang berasal dari kata ke+jawi+an, dan diucapkan Kejawen. Dalam kamus bahasa Jawa Kuna, entri Kejawen berarti menjadi orang Jawa atau ke Jawa-jawa an (menyerupai orang Jawa). Sedangkan kata Jawi itu sendiri dalam kamus bahasa Jawa berarti kata halus (krama).
Orang jawa mengajarkan pengetahuan tentang olah batin yang bersumber dari ajaran-ajaran para leluhur orang Jawa.

Apakah kejawen itu agama?
Saya tidak tahu persis bisa di sebut agama atau tidak. Kejawen merupakan perkawinan tradisi Islam, Hindu, Buddha dan kemasyarakatan jawa itu sendiri. Ajaran Kejawen itu sendiri tidaklah statis, tetapi terus menerus reseptif terhadap ajaran agama apapun yang masuk ke lingkungan keraton-keraton Jawa dan Sunda sejak abad XVI.
Kejawen menggambarkan keharmonisan hubungan kebatinan dan kemasyarakatan (tata tentrem kerta rahardja, gemah ripah loh jinawi). Silahkan putuskan sendiri

Kejawen musyrik?
Seperti yang saya tuliskan sebelumnya ajaran dilakukan turun temurun. Begitu juga benda-benda yang dianggap sarana musyrik. Orang jawa sangat menghargai apa yang di turunkan oleh nenek moyangnya, merawat dengan sepenuh hati untuk bukti rasa cinta pada leluhur. Saking begitu mencintai mereka hafal bagan turunan moyangnya atau dengan berkunjung ke makam moyangnya dalam jangka waktu tertentu.

Kejawen di jaman modern masih ada?
Kejawen bersifat reseptif, ajaran kejawen berkembang untuk menciptakan keharmonisan hidup. Mungkin banyak orang telah meninggalkan karena dianggap bertentangan dengan agama mereka. Tetapi tidak sedikit pula yang masih menjalankannya. Seperti halnya menabur bunga di makam, banyak yang menentang karena tetapi masih juga dilaksanakan sampai sekarang.
Kita bisa mengutip sepenggal pidato Sultan Hamengku Buwono IX: ”Sepenuhnya saya menyadari bahwa tugas yang ada di pundak saya adalah sulit dan berat, terlebih-lebih karena ini menyangkut soal mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja sama dalam suasana harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya.”

Gerakan pemurnian agama yang bangkit kembali dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia harus disikapi secara bijak. Kejawen bukan penghancuran nilai kebatinan, lebih karena pengayaan kebatinan yang disesuaikan dengan lingkungan. Seperti halnya Walisongo mengawinkan Islam dengan budaya jawa. Atau Franciscus Georgius Josephus van Lith yang belajar kejawen untuk melahirkan gereja jawa. Hal ini penting agar, kebudayaan masyarakat Jawa tidak kehilangan esensi dan pondasinya. Tanpa kebudayaan, masyarakat Jawa akan hidup tanpa identitas.

“Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik en de allereerste plaats Javaan. Zo zal de adat, zo dese niet remmend werkt op de onwikkeling, een voorname plaatz blijven innemen in de traditierijke Keraton,” demikian dikatakan Sultan Hamengku Buwono IX dalam pidato penobatannya, pada tanggal 1 Maret 1940 (“Meski saya telah mengikuti pendidikan Barat, tetapi saya tetap orang Jawa. Sepanjang tidak menghambat kemajuan, maka adat akan selalu menduduki tempat utama dalam Keraton yang mewarisi tradisi tersebut.”)

Iklan