Malam Ahad, 6 Juni 2015, bersamaan dengan malam final Liga Champion di Berlin, menghadirkan suasana pojok kompleks kampus yang berbeda. Panggung kecil yang temaram di depan Fakultas Sastra, Universitas Muhammadiayh Purwokerto, dikelilingi oleh lilin-lilin kecil dan dua lilin besar merah. Romantis. Kesan itu yang langsung “menyergap” orang-orang yang datang pada momen itu. Mahasiswa sastra tengah memulai malam sakral mereka, “Imoet English Nite”. Ritual yang mereka prakarsai untuk menyalurkan bakat dan kesenangan mereka dalam bingkai indah kompetensi bahasa Inggris. Salah satu menu yang dinanti kebanyakan audiens adalah pementasan lakon Peang Penjol, legenda humor dari Banyumas dari tahun 1980-an.

Malam itu, mereka menampilkan lakon Guyon Dadi Lakon (GDL). Guyonan yang biasanya hanya bisa dinikmati via audio kini ditampilkan dalam pentas drama. Sebagian besar dialog dari lakon asli coba dipertahankan, termasuk dialek Banyumasan yang sangat asli dan mbleketaket. Peang Penjol adalah kelompok dagelan yang sangat mengandalkan bahasa sebagai media penciptaan humor sehingga pemertahanan perangkat verbal dalam pentas tersebut sangat penting untuk menghadirkan kelucuan itu kepada penonton. Mahasiswa  yang pada umumnya tidak mengenal Peang Penjol itu tetap bisa menikmati guyonan itu meskipun kadang mereka tidak tahu persis arti dari kata-kata yang diucapkan oleh pemain di panggung, terlebih lagi mereka yang datang dari luar Banyumas. Bahkan, pemain pun ternyata juga tidak mengerti beberapa kata-kata yang berulang-ulang mereka ucapakan, seperti kata jewawut, jenis rumput dalam dialek tersebut.

Lakon GDL sendiri menceritakan kisah yang cukup serius. Cerita yang mengingatkan pada legenda-legenda besar Oedipus Rex, atau Sangkuriang. Lakon tentang pertemuan cinta antara Ibu dengan sang anak, yang dipisahkan oleh nasib. Hanya saja yang menjadi tumpuan ceritanya adalah sang Ibu. Balutan genre humor menjadikan kisah tersebut menjadi sangat ringan dan tidak mengharu-baru, karena pada akhirnya perkawinan ibu-anak tersebut batal, karena pertemuan sang ibu dengan calon mertua, yang adalah sang suami yang terpisah puluhan tahun. Gaya penutupan lakon dengan menyebutkan judul cerita sebagai tanda akhir mengingatkan kita pada panggung-panggung masa lampau, seperti Srimulat atau ketoprak di TVRI. Bungkukan yang menyusul seruan bersama, “Kiye sing dearani Guyon Dadi Lakon”,  disambut tepukan riuh penonton di depan panggung.

Serasa Suliyah muda, yang diperankan oleh Sovian Nisa, hadir benar-benar di panggung itu. Kelenjehan dan kepedean sang Srikandi dagelan seperti melekat dan benar-benar membius penonton. Respon-respon nakal dari penonton yang memang teman-teman sendiri pun mampu disambut dan dikemas menjadi bagian dari cerita. Dan pembawaan dialek Banyumasan yang sangat kental dari pemeran Peang menjadikan legenda humor Banyumasan serasa dibangkitkan dari ketiadaan. Upaya yang telah dirintis oleh para mahasiswa kreatif dari Fakultas Sastra UMP tersebut patut diapresiasi dan didorong untuk terus mengembangkan. Banyak fungsi dan makna dari pementasan tersebut, salah satunya adalah revitalisasi budaya daerah yang memiliki peran strategis bagi pembangunan daerah dan pembangunan karakter bangsa. Semoga panggung-panggung serupa bisa melahirkan Peang Penjol baru, membangkitkan sang legenda humor sebagai cinderamata budaya di Banyumas (Khristianto).

Iklan